Thursday, February 11, 2010

Ide itu Mahal

Beberapa waktu yang lalu, kantor kami MIDAS Creative ada kesempatan untuk mengikuti pitching pembuatan website, design company profile beserta POS material lainnya.
Setelah mengikuti proses briefing dan persyaratan lainnya, kami mulai menginternalkan segala sesuatunya, dari proses brainstorming sampai terbentuknya sebuah ide dan konsep yang siap dituangkan ke dalam design.

Seperti biasa, ketika membuat sebuah design, kami selalu memberikan minimal 3 (tiga) alternative design untuk dipresentasikan ke client.
Pada saat mempresentasikan konsep yang sudah kami rancang, client terlihat puas dengan ide yang kami sampaikan, kecuali... soal harga!
Client beranggapan harga yang kami ajukan terlalu tinggi untuk semua jenis pekerjaan yang kami lakukan.
Usut punya usut ternyata client membandingkan dengan harga yang diberikan oleh percetakan.
Dengan jelas dan gamblang kami coba berikan pemahaman, bahwa harga kami terlihat mahal karena design yang kami berikan ada proses brainstorming yang melahirkan sebuah ide di dalamnya, walaupun demikian tampaknya client tersebut masih belum cukup paham atas penjelasan kami karena ide dari design yang dihasilkan tidak dianggap sesuatu yang bernilai, dan pada akhirnya kami kalah dalam pitching tersebut.

Ide bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja, tetapi dia tidak datang sendiri atas inisiatifnya tanpa ‘undangan”. Ide merupakan hasil dari berbagai proses kreativitas yang dilakukan Dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti yang dikatakan oleh Leo Burnett "Big Ideas Come Out of Big Pencils".
Ide bisa didapat ketika proses brainstorming berlangsung, perlu diingat, seburuk atau sesederhana apapun ide yang keluar diusahakan untuk "tidak dibunuh" terlebih dahulu, karena ide yang baru itu ibarat bayi baru dilahirkan yang perlu dirawat dan dibesarkan. Dan bisa saja dari suatu ide yang biasa/ sederhana itu bisa melahirkan ide yang briliant. Untuk itu diperlukan adanya proses lebih lanjut dalam hal menajamkan/mengembangkan dari salah satu ide yang sudah dipilih untuk menjadi lebih sempurna lagi. Dan proses pencarian ide juga dilakukan dengan memahami product, memahami customer, memahami competitor dll
sehingga mendukung pernyataan “Ide itu mahal” karena proses yang dilakukan di “belakang”

Banyak orang menginginkan sebuah ide yang "out of the box", supaya bisa terlihat fresh dan unik, dan sementara itu tidaklah mudah untuk kita mendapatkan ide yang out of the box.
Kenyataan bahwa dengan banyaknya ide yang sudah keluar atau dipakai, merupakan salah satu kesulitan seseorang untuk mengeluarkan ide segar. Untuk memudahkannya dengan cara melihat dari angle/ sudut pandang yang berbeda dari ide yang sama.

Sebagai contoh, ada salah satu iklan yang menggunakan ide keberagaman suku di Indonesia sebagai kemasan dalam iklannya, tarian atau lagu daerah yang dikedepankan. Dengan demikian kita juga bisa menggunakan keberagaman suku sebagai ide akan tetapi jangan lagi menggunakan tarian atau lagu daerah sebagai kemasannya tapi bisa menggunakan logat/gaya bahasa suatu daerah dalam penyampaian informasinya.
Dengan demikian ide boleh sama tapi mengemasnya dengan angle atau cara yang berbeda.

Jika dilihat bagaimana proses mendapatkan ide dan usaha dari hasil yang didapat, maka sudah sepantasnya diketahui bahwa sebuah ide itu memang mahal.

No comments:

Post a Comment